HARIAN NEGERI, Jakarta — Desa Lunto Barat yang terletak di Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, dikenal sebagai salah satu sentra aktif penghasil songket Minangkabau. Hingga kini, lebih dari 150 pengrajin songket di desa tersebut terus mempertahankan warisan budaya tenun tradisional yang telah hidup lintas generasi.

Songket merupakan kain tenun tradisional khas Melayu–Minangkabau yang dibuat dengan teknik supplementary weft, yakni penyisipan benang emas atau perak ke dalam kain dasar sehingga menghasilkan motif timbul yang rumit dan berkilau. Keunikan komunitas pengrajin songket di Lunto Barat terletak pada sistem pewarisan keahlian yang terbuka.

Tidak hanya diturunkan dalam keluarga, keterampilan menenun juga dipelajari secara langsung kepada para “guru tenun”, menjadikan komunitas ini inklusif dengan latar belakang usia, etnis, dan suku bangsa yang beragam.

Sejarah songket di kawasan Sawahlunto tidak dapat dilepaskan dari peran Silungkang sebagai pusat tenun tertua di Minangkabau sejak abad ke-17. Pada masa jalur perdagangan emas dan rempah, Silungkang berkembang sebagai sentra produksi songket untuk kalangan bangsawan dan keperluan adat. Desa Lunto Barat kemudian menjadi salah satu wilayah penyangga utama produksi songket Silungkang yang bertahan hingga kini.

Selain berfungsi sebagai pelengkap busana adat, songket telah menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga. Ibu Adrianti bersama suaminya, Bapak Isyafrianto, pengrajin songket di Dusun Tanjung Medan, menuturkan bahwa songket telah menopang ekonomi keluarga mereka selama bertahun-tahun, mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membiayai pendidikan anak-anak.

Namun demikian, para pengrajin kerap menghadapi fluktuasi permintaan, terutama pada periode tahun ajaran baru Juli–Agustus, ketika pengeluaran masyarakat lebih difokuskan pada kebutuhan pendidikan. Kondisi ini mencerminkan keterbatasan daya beli masyarakat yang berdampak pada penurunan konsumsi produk non-esensial seperti songket.

Tantangan pemasaran songket Lunto Barat juga terjadi pada skala nasional dan internasional. Secara nasional, songket sulit bersaing dengan tekstil modern hasil produksi massal karena harga jual yang relatif tinggi akibat proses pembuatan manual yang memakan waktu hingga berminggu-minggu. Promosi melalui pameran masih terbatas dan belum berkelanjutan.

Sementara di tingkat global, minimnya sertifikasi produk budaya, keterbatasan konten digital berbahasa Inggris, serta belum terintegrasinya pengrajin dengan sistem e-commerce dan pembayaran internasional menjadi hambatan utama menembus pasar mancanegara.

Menjawab tantangan tersebut, KKN Universitas Andalas Reguler I Tahun 2026 melaksanakan Program Digitalisasi dan Pemetaan UMKM Songket Desa Lunto Barat. Sebanyak 35 pengrajin aktif kini telah didata dan dipetakan secara digital sebagai langkah awal membuka akses pasar langsung.

Program ini meliputi pembuatan profil terpusat UMKM songket di website desa, pemetaan lokasi pengrajin melalui Google Maps lengkap dengan portofolio visual, pemasangan stiker identitas usaha di rumah pengrajin, serta produksi video profil yang diunggah melalui media sosial resmi desa dan KKN Unand Reguler I 2026.

Digitalisasi ini dinilai sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan pengrajin pada rantai pemasaran tradisional. Melalui pemetaan digital, pengrajin dapat terhubung langsung dengan konsumen tanpa perantara, sehingga berpotensi meningkatkan margin keuntungan.

Keberadaan identitas digital juga memungkinkan promosi berkelanjutan melalui mesin pencari dan algoritma media sosial, sekaligus menjadi fondasi integrasi dengan platform marketplace dan peluang ekspor ke pasar global.

Dalam jangka panjang, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan visibilitas dan permintaan produk songket, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga pengrajin melalui stabilitas harga dan diversifikasi pendapatan. Lebih dari itu, digitalisasi menjadi medium pelestarian budaya.

Dengan memadukan kearifan lokal dan teknologi, KKN Unand Reguler I 2026 tidak hanya memetakan koordinat geografis pengrajin songket, tetapi turut menenun masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan bagi perajin songket Desa Lunto Barat.