HARIAN NEGERI - RADARBANDUNG.ID, JAKARTA—Berselang hampir tiga bulan setelah sang mertua, mantan Wakil Presiden Jenderal (Purn.) Try Sutrisno, wafat, Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu juga tutup usia. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mengembuskan napas terakhir dalam usia 76 tahun kemarin.Kabar kepergian salah satu tokoh militer paling senior dan disegani di tanah air itu dikonfirmasi secara resmi oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Brigjen Rico Ricardo Sirait. “Benar, kami mendapat informasi berita duka cita, bahwa telah meninggal dunia Bapak Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu pada hari ini (kemarin),” ungkap Rico.Rico menambahkan, mantan Menhan tersebut berpulang pada pukul 14.03 WIB kemarin saat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 21 April 1950, darah prajurit mengalir kental dalam nadi Ryamizard.
Almarhum meninggalkan seorang istri dan tiga putra.“Dedikasi, keteguhan, serta kontribusinya dalam memperkuat sistem pertahanan negara menjadi bagian dari warisan pengabdian yang akan terus dikenang dan menginspirasi generasi penerus dalam menjaga kedaulatan NKRI,” tulis Kemenhan tentang almarhum di akun Instagram resminya.Ryamizard putra Mayjen TNI (Pur) Musannif Ryacudu, seorang tokoh pejuang kemerdekaan dan petinggi militer. Suami Nora Tristyana tersebut lulus Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1974 dari kecabangan infanteri Kostrad.Sebagai prajurit komando, rekam jejak tempurnya ditempa di berbagai palagan operasi militer, mulai dari Operasi Seroja di Timor Timur hingga penugasan pengamanan daerah rawan lainnya.Karier kemiliteran Ryamizard melesat pada masa-masa kritis transisi demokrasi Indonesia.
Dia di antaranya dipercaya menjabat Panglima Kodam V/Brawijaya, Panglima Kodam Jaya, Pangkostrad, dan KSAD.Pada 2004, di ujung masa jabatan Presiden Megawati Soekarnoputri, Ryamizard sempat diajukan sebagai calon tunggal Panglima TNI.
Namun, dinamika politik pergantian kekuasaan saat itu membuat pencalonannya tidak berlanjut.Meski demikian, Ryamizard tetap tunduk pada keputusan politik negara tanpa menimbulkan kegaduhan. Pada 2014, Presiden Joko Widodo memanggilnya kembali untuk masuk ke dalam Kabinet Kerja sebagai Menhan.
(idr/ttg/Jawa Pos)


Komentar