Oleh: Syaefunnur Maszah

“Ngapain ikut organisasi? Fokus saja kuliah. IPK tinggi lebih penting daripada sibuk rapat, diskusi, dan kegiatan organisasi.”

Ucapan itu terlontar dari seorang mahasiswa baru ketika kami berdiskusi di pelataran kampus. Ia meyakini bahwa masa depan cukup dibangun melalui prestasi akademik semata. Menurutnya, organisasi hanya membuang waktu dan mengganggu studi.

Saya lalu bertanya pelan, “Kalau semua anak muda hanya mengejar nilai dan ijazah, siapa yang akan belajar memimpin masyarakat, mengelola konflik, membangun jaringan, melatih keberanian, dan memperjuangkan kepentingan bangsa?”

Ia terdiam cukup lama.

Memang benar, dunia akademik sangat penting. Bangsa ini membutuhkan ilmuwan, profesional, dan intelektual hebat. Namun sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan besar tidak lahir hanya dari ruang kelas, melainkan juga dari ruang kaderisasi, organisasi, pengabdian sosial, dan pergulatan pemikiran.

Karena itu tidak mengherankan bila banyak tokoh nasional Indonesia ternyata lahir dari tradisi aktivisme pelajar. Bahkan sejumlah tokoh besar lintas bidang diketahui merupakan eks aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), di antaranya Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI dua periode sekaligus pengusaha nasional; Ahmad Muzani, Ketua MPR RI; Prof. Dr. Arif Satria, Kepala BRIN; K.H. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU; Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah; serta Letjen TNI Z.A. Maulani, mantan Kepala BAKIN RI. Mereka semua dikenal sebagai eks aktivis PII yang tumbuh melalui tradisi kaderisasi, diskusi intelektual, latihan kepemimpinan, dan pengabdian sosial sejak usia muda.

Aktivisme sebagai Madrasah Kepemimpinan

Al-Qur’an memberikan fondasi penting tentang perlunya lahir generasi pelopor perubahan:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.” (QS. Ali Imran: 104)

Dalam kajian nahwu, kata وَلْتَكُنْ merupakan fi‘il mudhari’ majzum karena masuk lam al-amr, menunjukkan perintah yang bersifat kolektif dan berkelanjutan. Sedangkan kata أُمَّةٌ berbentuk isim nakirah yang mengandung makna perlunya selalu hadir kelompok kader pelopor dalam setiap zaman.

Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini menjadi legitimasi pentingnya pembentukan kelompok terorganisasi yang bertugas membangun peradaban dan menjaga arah umat. Sementara Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa manusia tidak akan mampu membangun kehidupan besar tanpa kerja kolektif, latihan tanggung jawab, dan pembiasaan memimpin sejak muda.

Tradisi kitab kuning juga menekankan pentingnya aktivisme sosial. Dalam kitab Ta‘lim al-Muta‘allim, Burhanuddin az-Zarnuji menjelaskan bahwa keberhasilan ilmu tidak hanya ditentukan kecerdasan, tetapi juga adab, pengalaman sosial, dan lingkungan perjuangan. Sedangkan Al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din menjelaskan bahwa kepemimpinan membutuhkan latihan komunikasi, pengelolaan konflik, kesabaran, dan kedekatan dengan masyarakat.

Karena itu organisasi pelajar dan mahasiswa sesungguhnya bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan laboratorium kepemimpinan. Di sana seseorang belajar berpikir sistematis, memimpin forum, menyampaikan gagasan, mengelola perbedaan, dan membangun mental keberanian.

Dari Organisasi Pelajar Menuju Kepemimpinan Nasional

Berbagai riset modern memperkuat pentingnya pengalaman organisasi. Laporan World Economic Forum tentang Future of Jobs menempatkan leadership, teamwork, critical thinking, dan problem solving sebagai keterampilan utama abad modern.

Psikolog Daniel Goleman melalui teori Emotional Intelligence menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi dan membangun relasi sosial sangat menentukan keberhasilan kepemimpinan. Sedangkan David McClelland melalui teori Need for Achievement menyebut bahwa individu yang terbiasa menghadapi tantangan organisasi cenderung memiliki motivasi berprestasi dan kepemimpinan lebih tinggi.

Hal itu terlihat nyata pada perjalanan para eks aktivis Pelajar Islam Indonesia. Pengalaman organisasi membentuk kemampuan komunikasi, jejaring sosial, kepemimpinan strategis, hingga daya tahan menghadapi tekanan.

Tidak sedikit kader organisasi pelajar yang kemudian tampil menjadi pemimpin nasional, akademisi, ulama, birokrat, pengusaha, hingga tokoh militer. Ini menunjukkan bahwa organisasi bukan penghambat prestasi akademik, melainkan ruang pembentukan karakter kepemimpinan dan kemampuan sosial yang sering kali tidak diperoleh di ruang kelas formal.

Sejarah Bangsa Dibangun Kaum Aktivis

Sejarah Indonesia sendiri dibentuk oleh energi kaum muda. Sumpah Pemuda lahir dari konsolidasi organisasi kepemudaan lintas daerah. Reformasi 1998 juga memperlihatkan bagaimana mahasiswa dan pemuda mampu menjadi kekuatan moral ketika bangsa mengalami krisis besar.

Dalam sejarah Islam, Muhammad Al-Fatih sejak muda ditempa bukan hanya dalam ilmu agama, tetapi juga strategi, kepemimpinan, bahasa, dan keberanian menghadapi tantangan besar. Begitu pula Salahuddin al-Ayyubi yang tumbuh dalam tradisi ilmu dan perjuangan sosial sebelum menjadi pemimpin besar.

Ulama kontemporer Yusuf al-Qaradawi juga menekankan pentingnya fiqh al-waqi’ atau kemampuan memahami realitas sosial secara nyata. Aktivisme membantu generasi muda memahami persoalan masyarakat secara langsung, bukan hanya teoritis.

Namun aktivisme sejati bukan sekadar ramai slogan, pencitraan media sosial, atau retorika kosong. Aktivisme sejati adalah latihan integritas, keberanian moral, tradisi ilmu, kedisiplinan organisasi, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.

Aktivisme Era Digital: Inovatif, Intelektual, dan Spiritual

Tantangan generasi muda hari ini jauh lebih kompleks dibanding masa sebelumnya. Era digital melahirkan banjir informasi, budaya instan, polarisasi media sosial, hingga krisis fokus dan krisis keteladanan.

Karena itu organisasi pelajar dan mahasiswa harus bertransformasi. Kaderisasi tidak cukup hanya berupa rapat rutin dan seminar formal. Perlu inovasi seperti pelatihan artificial intelligence, digital leadership, content creation dakwah, simulasi diplomasi internasional, riset kebijakan publik, social entrepreneurship, hingga penguatan literasi geopolitik dan ekonomi digital.

Generasi muda juga harus mampu memadukan tiga kekuatan sekaligus: spiritualitas, intelektualitas, dan penguasaan teknologi. Tanpa spiritualitas, aktivisme mudah berubah menjadi ambisi kekuasaan. Tanpa intelektualitas, gerakan akan mudah emosional dan dangkal. Tanpa penguasaan teknologi, generasi muda akan tertinggal dalam persaingan global.

Di sinilah pentingnya Pelajar Islam Indonesia dan organisasi kepemudaan lainnya untuk terus menjadi pusat kaderisasi pemimpin masa depan bangsa. Organisasi harus melahirkan negarawan, ilmuwan, pengusaha, diplomat, teknokrat, dan pemimpin yang memiliki integritas moral serta visi peradaban.

Karena pada akhirnya, sejarah bangsa hampir tidak pernah diubah hanya oleh orang yang pandai mengerjakan ujian. Sejarah lebih banyak diubah oleh mereka yang berani memimpin, mau berjuang, terlatih menghadapi masalah nyata, dan memiliki idealisme yang ditempa sejak usia muda.