Oleh: dr. Safril Ismail (Ketua Umum HmI Cabang Ternate Komisariat Kedokteran Unkhair)

Ribuan nyawa hilang, kita butuh berapa nyawa untuk kita bersenyawa atas nama sebangsa dan setanah air?

Mari menepi pada Lorong dan sirkuit melajunya senyawa-senyawa otak. Buka mata, buka data berarti buka fakta. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB per 21 Desember pukul 06.00 WIB, korban jiwa bencana Sumatera mencapai 1.090 jiwa. Ini adalah jumlah yang bukan sedikit karena akan banyak petakkan tanah yang digali dengan cangkul oleh pekerja penggali makam yang mungkin juga sudah tebawa banjir dan longsor, kiranya yang akan menjadi tim evakuasi adalah berbagai instansi, lembaga, dan berbagai macam organisasi yang turut prihatin membersamai di lokasi.

Untuk bahu-membahu menjadi kaki tangan keluarga korban yang terluka dan telah kehilangan nyawa, pastinya mereka juga akan melembur sebagai penggali makam massal tragedi besar Aceh untuk kedua kalinya setelah Aceh dilanda Tsunami Desember 2004.

Media tak henti-hentinya menyebarkan berita luka dan duka, terkonfirmasi dari berbagai media Korban jiwa paling banyak tercatat di Provinsi Aceh. Sebanyak 472 jiwa meninggal imbas banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah paling ujung utara nusantara tersebut. Sekitar 4,3 ribu orang di Provinsi Aceh juga mengalami luka-luka akibat bencana ekologis itu. Sebab BNPB mencatat terdapat 186 orang yang masih belum ditemukan atau hilang.

BNPB juga melaporkan ada lebih dari 7 ribu jiwa mengalami luka-luka.  Di Provinsi Sumatera Utara, BNPB mencatat ada 370 korban meninggal. Sebanyak 2,3 ribu orang mengalami luka-luka. Sedangkan di Provinsi Sumatera Barat, jumlah korban jiwa sebanyak 248 orang dan 382 lainnya mengalami luka-luka. 

BNPB juga mencatat terdapat 147.236 rumah rusak akibat banjir dan tanah longsor. Ribuan fasilitas publik, termasuk sekolah, jembatan, fasilitas kesehatan, dan rumah ibadah yang tersebar di tiga provinsi tersebut juga mengalami kerusakan setelah diterjang banjir dan tanah longsor. 

Hujan sebagai manifestasi derasnya air di pulau Sumatera saking derasnya air mata korban menjadi tak terlihat sebab hujan lebih lebat dari air mata rakyat yang tak terungkap pengakuan bahwa banjir dan longsor ini ulah siapa, ada yang menyalahkan alam, ada yang menyalahkan mesin raksasa, ada yang menyalahkan pohon, ada yang menyalahkan pemerintah dari yang kecil sampai yang gede’.

Bahkan yang liciknya ada yang mengatakan dimulut kecil mereka bahwa ini Takdir Tuhan yang Maha Besar dan asumsi terakhir yang paling membuat saya harus beristighfar karena tak sanggup menafsir ada yang berjenggot pendek menafsir fenomena sependek bulu dibawah dagunya sehingga Tuhannya yang Maha Besar dihakimi sebagai pencetus tragedi. 

Mari kita menjahit makna dari banyak tafsir ini agar menepis penalaran dan perasaan tipis ini dengan senjata lunak dan kenyal tepat dibelkang dahi kita sedikit diatas kedua bola mata kita yaitu pre-frontal cortex.

‘’Jika tidak sanggup menolong dengan materi minimal jangan menggonggong bagaI anjing lapar yang justru menambah beban’’

Saya tidak sanggup menerawang berapa jumlah bantuan yang terdistribusi pada titik lokasi namun dari semua lapisan masyarakat dan dari berbagai lini disetiap sendi Negri ini sudah sangat memaksimalkan upaya untuk meringankan luka dan duka di titik-titik lokasi.

Upaya penanganan diperkuat melalui pendirian 39 dapur umum dengan kapasitas produksi 417.749 bungkus makanan per hari, suplai 101,4 ton beras, serta ribuan paket kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, makanan anak, kasur, selimut, tenda keluarga, hingga penjernih air. Sebanyak 648 TAGANA dikerahkan untuk evakuasi, layanan dapur umum, dan dukungan psikososial. Meskipun berita listrik mulai normal juga menjadi info hangat dan misterius.

Aceh mencatat jumlah pengungsi tertinggi mencapai 747 ribu jiwa. Sebanyak 21 dapur umum memasok hingga 109.178 bungkus per hari, disertai suplai logistik seperti 8.300 makanan siap saji, 4.720 makanan anak, 3.395 kasur, 5.750 selimut, dan 52 ton beras. Total bantuan di Aceh mencapai Rp22,6 miliar dengan dukungan 191 Tagana.

Di Sumatera Utara, KEMENSOS mengoperasikan 8 dapur umum berkapasitas 22.960 bungkus per hari. Bantuan yang dikirim meliputi 33.430 makanan siap saji, 8.160 makanan anak, 1.850 kasur, dan 15ton beras. Sebanyak 270 Tagana bergerak di 11 kabupaten/kota, dengan nilai bantuan Rp26,7 miliar. 

KEMENSOS menyalurkan bantuan ke Sumbar melalui 10 dapur umum dengan kapasitas tertinggi, yakni 285.611 bungkus per hari. Bantuan mencakup 14.758 makanan siap saji, 5.640 makanan anak, 4.135 kasur, 5.680 family kit, serta 34,4 ton beras. Sebanyak 187 Tagana diterjunkan di 9 kabupaten/kota, dengan total nilai bantuan Rp17,3 miliar. 

Aceh Timur dapat dijangkau kembali pada 2 Desember 2025 melalui jalur laut dengan membawa 2.000 paket sembako, perangkat komunikasi Starlink, dan logistik pendukung. Di Langkat, Sumatera Utara, akses berhasil dibuka pada 28 November 2025 dengan pendirian Posko Pengungsian Terpadu. Pada hari yang sama, tim Kemensos juga mencapai Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga untuk menyalurkan sembako awal dan melakukan asesmen kebutuhan.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) melalui lembaga kemanusiaan UAH Care, bersama Kesatuan Himpunan Elemen Masyarakat Indonesia, juga turut dengan langkah pasti, Sebanyak 60 ton bantuan dikirimkan untuk menjangkau masyarakat terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Influencer Ferry Irwandi berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp10,3 miliar untuk diberikan kepada korban bencana alam di wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat (Sumbar). Masih banyak lagi yang sangat berhati malaikat untuk bahu-membahu mendonasikan. Kita akan melihat ini sebagai kerja keras kolektif dari berbagai elemen masyarakat yang tak kenal lelah untuk mempersiapkan agar bantuan terdistribusi pada titik-titik lokasi.

Bantuan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemenristekdikti) mengerahkan sedikitnya 1.500 dokter serta 1.000 tenaga medis dan kesehatan untuk membantu penanganan wilayah terdampak bencana di Sumatera. Mungkin bisa lebih dari yang tercatat namun disini kita dapat melihat banyak kerja-kerja kolektif yang dikerahkan untuk membersamai keluarga korban dan semoga dapat meringankan duka cita Aceh dan sekitarnya.

Saya bingung mana lokal, mana regional dan mana nasional. Apakah otak orang luar Indonesia lebih nasionalis dari bapak-bapak di Negeri ini?

Sejujurnya saya bukan pakar menganalisis bencana dan kemudian menjadi bingung dengan situasi yang dinamis lalu tak sanggup melihat di media ada banyak yang menagis dan beberapa sangat konsisten menjadi speaker paling nyaring ditelinga pemerintah agar menetapkan Tragedi pulau ujung barat (Sumatera) sebagai “Bencana Nasional”.

Banyak alasan yang dirasionalisasi sehingga melihat ini saya mencoba mengalisis tajam agar dapat mengiris dimana pikiran lemahnya pihak pemerintahan sehingga tetap keras untuk tidak menetapkan tragedi ini sebagai bukan Bencana Nasional. 

Fenomena ini memperlihatkan kita ada pada era moderenisasi yang menormalisasi menggunakan kemampuan rasionalisasi, tanpa sadar senyawa otak buta sehingga tiba pada irasioanal seakan nyawa yang hilang tidak dianggap bernilai sebab nyawa hilang hanya akan berakhir pada angka data BNPB, disini sangat miris nyawa terlihat murah tak bernilai dan hanya mejadi jiwa ditelan bumi dimainkan pada kelas matematis sebab angka yang sanggup terhitung yang dianggap penting hanya angka berapa korban selama bencana dievakuasi.

Ada beberapa alasan mendasar yang tak dapat saya jabarkan panjang lebar, bisa buka media TEMPO untuk terawang apa saja alasan ngenyeleneh pemerintah diantaranya, Bencana Masih Setingkat Daerah, Belum Memenuhi Ambang Batas Skala Korban, Kondisi Tiga Wilayah Terdampak Belum Begitu Mencekam. 

Sekiranya silahkan para pembaca yang mendekonstruksi yakni membongkar dan menganalisis sekaligus menantang apa dibalik kebijakan pemerintahan selaku pelayan rakyat seakan tercium aroma busuk di dapur istana yang jauh lebih busuk dari bangkai kepala babi. Kiranya alam bisa bercerita tangan manusia yang mencoret batang kayu bernomor sebagai sandaran senyawa otak yang tercerahkan agar turut menafsir fenomena hingga pada nomena.

Etika perlu bersahabat dengan Estetika agar manusia sanggup menelan pahit kemudian memeluknya dan berupaya mengubahnya dengan Langkah Progres menuju manis

Setelah penjabaran panjang lebar yang mohon maaf tidak sanggup secara komprehensif itulah teks yang akan bercerita bahwa yang menulis teks ini adalah manusia bukan malaikat yang tidak begitu jeli mengungkap fakta dari data-data yang ada. 

Saya ingin mengajak pembaca pada ruang kelas diam adalah hening yang menganalisis, fenomena awal tahun baru memberi makna bahwa sebangsa dan setanah air masih perlu banyak kurikulum ketat agar tepat di ruang-ruang refleksi biar apa?.

Biar refleksi bukan hanya sekedar reflek 5 menit melihat Tik-Tok, FB, IG dan berbagai mulut-mulut algoritma yang memberi informasi dimedia sosial namun reflek hanya akan membuat menangis 5 menit namun tak sanggup merenung diatas 7 menit, itulah mengapa perlu penegasan bahwa reflek dan refleksi sangatlah tidak sama makna.

Mari kita berkunjung pada media (Kabar Harian) yang menuliskan sederet daftar Acara malam Tahun Baru 2026 diberbagai Kota diantaranya:

  • Gammara Hotel – Makassar
  • Lokacita Bandungan - Semarang 
  • GWK Bali
  • Prambanan Yogyakarta
  • Jakarta – Ancol

Catatan informasi yang saya gali tidak ditemukan total yang dianggarkan dan juga terlepas dari konsep apakah ada diselipkan waktu 5 menit refleksi dan dzikir pikir agar menghindari pembakaran kembang api yang justru saudara-saudara kita dibelahan Barat jauh tidak dapat melangsungkan penutupan tahun dengan gembira namun hanya menahan tangis dan selalu bangun dari tidur adalah mimpi buruk sepanjang waktu mempertanyakan banyak hal.

Berbagai infrastruktur yang dilumpuhkan bencana akan kapan pulih, kaki yang patah apakah masih bisa jalan kesekolah rusak, tangan yang luka apakah masih sanggup menulis panjang kisah pilu, dan masih banyak lagi apa saja dampak tragedi sementara dipulau lain menganggap lelucon karena hanya sanggup reflek 5 menit untuk menangis dan tidak sanggup 7 menit maksimalkan senyawa otak untuk kritis.

Habiskan Uang Juga Harus Paham Ruang agar tepat, bukan sekedar bebuat baik, karena kebaikan juga butuh seni, kadang kebaikan hanya untuk terlihat baik namun bukan pada subtansi mendaratkan kebaikan pada kebutuhan

Penegasan kecil bahwa penulis bukan jagoan Dekonstruksi sebab jagoannya sudah menitipkan Dekonstruksinya pada peminat-pemintnya. meninggal dunia pada 8 Oktober 2004 di Paris, Prancis, pada usia 74 tahun.

Saya cukup berterimakasih dengan orang yang telah menstimulus saya untuk membuka pikiran Derida sebab filosofis butuh kerangka pembongkar agar nalar yang siap memberontak akan temukan banyak makna dialam luas ini.

Tulisan ini hanya akan memproduk makna baru namun tak sanggup untuk lanjut pada konstruksi sebab itu butuh waktu panjang, dan mari kita lihat catatan terdekat dimedia kita yaitu “North Maluku Utara Dance Competition 2025: Menjaga Harmoni Budaya Lewat Karya” Sekprov Maluku Utara, Samsuddin A Kadir, resmi buka North Maluku Dance 2025, di Sofifi, Minggu (28/12/2025). 

Penting bahwa agenda ini syarat akan makna budaya dan pasti perlu untuk dinikmati masyrakat Maluku Utara sebagai Rakyat yang diprioritaskan. Kita juga sudah menerima kabar baik 2 miliar yang didonasikan pada korban Sumatera dan Aceh sebagai nafas legah masih memiliki pihak pemerintahan yang peduli dan walaupun hanya seperak itu tetaplah niat baik yang tersalurkan.

Dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakan Sekda, Sherly Tjoanda menyampaikan bahwa ajang tersebut tidak sekadar menjadi perlombaan tari, tetapi juga ruang perayaan jati diri dan persatuan masyarakat Maluku Utara melalui seni budaya.

“Hari ini kita tidak sekadar berkumpul. Kita merayakan jati diri dan menghidupkan budaya leluhur melalui gerak tubuh, irama, dan jiwa,” ujar Samsuddin saat membacakan sambutan.

Ia menegaskan, North Maluku Dance Competition menjadi panggung persatuan bagi seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara untuk menampilkan kebanggaan, cerita, serta denyut kebudayaan masing-masing daerah.

“Dari Ternate hingga Kepulauan Sula, dari Halmahera Barat sampai Halmahera Tengah, dari Tidore hingga Pulau Morotai, kita berdiri sejajar dan bersatu dalam tarian Maluku Utara,” katanya.

Menurutnya, tari di Maluku Utara bukan hanya soal keindahan gerak, tetapi juga sejarah yang hidup, doa yang bergerak, serta bahasa jiwa yang diwariskan lintas generasi. 

“Setiap hentakan kaki dan kibasan tangan mencerminkan keberanian, kelembutan, kearifan adat, solidaritas, dan martabat orang Maluku Utara” tambahnya dalam sambutan tersebut.

Senang dengan narasi bagai komentar romantis, namun dibalik tragedi dramatis kita kiranya penting dan perlu bijak untuk berdiskusi panjang sebelum eksekusi. Saya juga akan sepakat dari agenda yang ada juga membuka jalan rezeki pedagang kecil disekitaran lingkaran Tugu Bola Dunia. Namun tugu ini seakan turut memancing senyawa otak saya, pada struktur tugu itu mencerminkan makna mendalam meskipun spesifik pada konsep pembangunan Maluku Utara.

Beralih pada kota ramai untuk acara panggung utama dalam rangka malam pergantian tahun 2025 ke 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate memilih untuk menyelenggarakan acara secara sederhana dan bersifat reflektif. Diluar kendali masih ada segelintir masyrakat yang melayangkan kembang api sebagai pengabaian bahwa api itu mengeringkan air mata tragedi Sumatera, Aceh dan sekitarnya. 

Pulau seberang Momen euforia menyambut tahun baru 2026 di Kota Tidore Kepulauan (Tikep) ditutup dengan konser amal dari Mario G. Klau, membawakan lagu-lagu pilihan dari Ruang Galaunya, yang saya juga tidak sanggup membaca arah galau mulai dari kaum Milenial, Gen-Z dan Gen Alpha bercampur aduk sebagai penonton Lokal Fest 2025 yang memadati Kawasan Wisata Pantai Tugulufa, Rabu (31/12/2025) Malam. 

Terkonfirmasi dari ulasan TIDORE, TERBITMALUT.COM. Sungguh rambut putih Derida sangat menjadi bayangan pengingat bahwa tidak akan ada makna tunggal, sebab bergesernya peradaban juga akan bergeser pula pemaknaan dan manusia menjadi pengamat sekaligus fungsi senyawa otak akan selalu berusaha menjahit banyak makna tanpa paksaan adanya klaim sebab makna setiap informasi yang di cerna senyawa otak pada beda kepala akan beda makna juga.

Mata bisa melihat fata yang sama, telinga bisa mendengar bunyi angka yang sama, namun neuron-neoron otak atau struktur kecil yang disebut kelenjar amigdala yang berperan reflek cepat mengelolah emosi akan mengurai informasi dan memberi makna, jika sempatkan beberapa menit dan renung dalam ruang tenang maka raja pada kerajaan anatomi akan sedikit memperlihatkan cahaya makna.

Saya sebut raja pada kerajaan antomi itu adalah Struktur otak Prefrontal Cortex (PFC) yakni bagian depan lobus frontal yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri. Dengan tiga sub-wilayah utama: lateral (dorsolateral & ventrolateral), medial (dorsomedial & ventromedial), dan orbitofrontal, yang semuanya penting untuk membentuk kepribadian, perilaku sosial, serta mengatur emosi, dan akan terus berkembang selama usia produktif.

Tafsir tidak pernah final dan tidak memiliki garis finish, tafsir tetap abadi diruang senyawa otak, namun penting dan perlu untuk paham memfungsikan otak agar eksistensi akan melaju pada substansi dan esinsi yang ideal, meskipun ruang idea tak sedikit yang “utopis”.

Sepatutnya harus ada akumulasi anggaran Tahun baru 2026 ini mulai dari kembang api yang harganya lima ribu rupiah, sampai pada jutaan rupiah dipentas-pentas panggung, namun jika itu semua terkonfirmasi pasti, akan ada yang semakin mengeringkan air mata korban bencana sebab banjir sudah menghanyutkan habis air mata itu.

Kita sulit saling memahami sebab beda penderitaan, dan mudah saling memahami karena sama penderitaan, dimanakah letak etiologi penderitaan kolektif?

Akhir yang bukan akhir tidak menjanjikan kesimpulan, sebab banyak makna yang masih butuh waktu panjang untuk di dekonstruksi, festival tahunan juga membuka rezeki tukang bakso yang anaknya menangis meminta sesuap nasi. Festival tahunan mendatangkan nafas legah penjual kembang api untuk membeli popok anak yang menagis, dan akan masih banyak tragedi-tragedi kecil yang terakumulasi menjadi tragedi besar pula. 

Hal tersebutlah yang menerkam saya sepanjang malam di ruang-ruang sunyi, apakah kita harus sama untuk mudah saling memahami, kiranya pucuk daun phon akan bisa memberi pelajaran penting dalam seni berbagi, pohon di hutan butuh sumbangsi penyerapan air dan unsur hara seperti (nitrogen, fosfor, kalium) yang menjadi penting untuk pertumbuhan  sel baru di pucuk.

Fotosintesis memperjelas bagaimana rangkaian pohon berbagi satu sama lain yaitu bahan utama pucuk daun sangat memerlukan air yang dibawah oleh akar untuk melakukan fotosintesis yang akan menghasilkan energi pertumbuhan pohon. 

Mari kontemplasi dan perlahan refleksi mungkin akan mengarahkan kita pada gerak aksi dan menstimulus setiap neuron di isi daging kenyal kepala kita (otak) sehingga bereaksi, reaksi-reaksi yang cerdas akan memanifestasikan keputusan emosional yang tidak mebajak rasional sebagai ejawantah diruang sosial juga hasil telaah kritis dan sistematis itulah yang akan memancarkan cahaya kecerdasan sosial (social intelligence) semua berakar pada emosinal yang cerdas.

ketika ejwantah kecerdasan sosial ini ketat analisis dan tepat ruang prioritas maka inilah yang akan sanggup mengantarkan pada keputusan politik yang bijak, menghindari luka rasional, luka emosional, dan luka sosial semua itu butuh seni berpolitik yang canggih, sebab politik dalam pandangan yang keren justru sangat menghindari yang licik, dan yang keren ini menjadi rumit, sulit melampaui rumus fisika, kimia, dan matematika, yakni persoalan berpolitik adalah seni kebijaksanaan dalam mendistribusikan keadilan.

Kita perlu berkenalan dengan berapa banyak pohon lagi untuk belajar bagaimana tepat mendistribuskan keadilan?, kita perlu belajar berapa banyak air mata lagi untuk menghindari air mata langit?, kita perlu berapa nyawa untuk dapat bersenyawa dengan senyawa-senyawa otak yang menagis karena ulah kaki tangan yang mines kualitas?.

Analisis pakar kehutanan ditepikan, analisis pakar lingkungan diabaikan, sehingga satu sama lain pada akhirnya saling menuduh, cukup mata yang kering dengan banyak air mata yang tak lagi basah, jangan lagi air mata neuron yang lelah menafsir kemudian mati dengan sendirinya itulah kematian jiwa lebih menjadi tragedi yang mendatangkan tragedi besar yang akan mematikan kematian-kematian biologis, ini sudah saya perjelas dengan angka diparagraf awal. 

Kematian jiwa sangat berkorelasi pada kematian biologis. Jiwa dalam hal ini adalah pikiran, perasaan yang telah maksimal menafsir dan terejawantah dalam ruang dan waktu akan menjadi perilaku, tindakan, gerak aksi, reaksi, transformasi pada interaksi ruang yang luas.

Dari akumulasi tragedi kecil hingga raksasa, fenomena akhir tahun harusnya menjadi momentum refleksi revolusi mental individual dan menular menjadi refleksi revolusi mental kolektif, sebab hanya dengan memeluk penderitaan dari tragedi dari tahun ke tahun, lustrum ke lustrum, dekade menuju dekade, jika perlu peluk tragedi banyaknya budak di negeri ini yaitu Indonesia, khususnya wilayah Batavia (sekarang Jakarta) dan daerah lain seperti Palembang dan Selat Malaka, menjadi pusat perdagangan budak yang signifikan selama era kolonial Belanda, terutama pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19. 

Puncak aktivitas ini terjadi pada sekitar akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Akumulasikan semua tragedi kecil seperti atom dan coba bingkai dalam satu catatan air mata maka dari tragedi yang sudah hilang karena larut oleh waktu kita juga akan mengungkap pada waktu negri ini sudah menabung celengan tragedi raksasa, sebab dari seluruh tragedi kolektif hanya akan menjadi sampah algoritma dan kisah tidur sikecil manis.

Revolusi mental adalah aktivasi sel-sel saraf untuk saling bekerja sama menjalankan fungsi membangun peradaban, itulah mengapa penting dan perlu menuntaskan berpolitik di negeri anamtomi (politik anatomi) sebab penyelesaian terhadap adil untuk diri sendiri akan menjelma pada ruang seni politik yang lebih kompleks mulai dari tataran keluarga, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga negara.

Jika kekuatan manusia terbagi menjadi tiga maka bisa kita lihat pada kitab politiknya Ibnu Sina yaitu, kekuatan fisik (al-quwwah al’-adhabiyyah), kekuatan emosional (al-quwwah al-ghadhabiyyah), dan kekuatan rasional (al-quwwah al-‘aqliyyah) pemaksimalan tiga energi kekuatan ini akan akan sangat berdampak pada ruang sosial, dan ruang sosial juga punya kerangka struktur anatominya sendiri namun jauh lebih kompleks. 

Secanggih apapun sistem yang menjadi rancang bangun tampaknya para politisi walau sudah berpegang tangan dengan akademisi dan berselingkuh dengan kapitalis masih saja belum sanggup menciptakan sistem sosial yang adil dan beradap.

Tidak ada penegasan siapa yang paling layak dan paling pantas di idealkan, sebab realitas ruang merah putih begitu di balut tebal miliaran makna, semoga dari akumulasi tragedi yang ada kedepan indinesia bisa renaissance. 

Sama seperti sel tubuh yang mengalami regenerasi yaitu sel tua/rusak akan segera diganti melalui proses alami yang canggih, namun sistem canggih itu dapat maksimal apa bila manusia dalam kodisi istirahat. Ini adalah proses bagian dari manifestasi Tuhan yang akan paling aktif saat kita tidur (sekitar jam 00:00-03:00) karena produksi hormon melatonin meningkat, dan secara spesifik saat ada cedera, di mana sel puncak (stem cell) akan merespons sinyal untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

Mari sama-sama berupaya untuk senantia memperbahrui pola pikir dengan terus rakus pada ilmu pengetahuan bukan rakus pada struktur sosial sebab semua akan indah jika etika bergandengan dengan estetika di ruang sosial.

Etika dan estetika itu ketika pilihan selalu jatuh pada yang berkualitas, sebab yang berkualitas akan sanggup berdiri menghindari popularitas meskipun ya juga sama kualitas selaras dengan kepercaan kolektif dan akan menciptakan popularitas, namun kenapa penting untuk kecerdasan intlektual, emosional, dan sosial ini dibawa pada keputusan politik.

Agar keputusan politik sesuai takaran bijak akan memilih yang berkualitas dan yang berkualitas akan sanggup memprioritaskan yang mayoritas bukan minoritas, jika tidak sanggup petakan luka bijaksana, maka matematis menjadi perisai sebagai tempat kalkulasi data meskipun prioritas diletakkan pada minoritas yang tidak terlalu mengalami kegawatdaruratan untuk dijadikan prioritas. Politik sangat membutuhkan seni imajinatif senyawa otak.

Sekian, silahkan menajhit makna-makna, dan temukan makna versi senyawa otak kalian untuk bersenyawa dalam bahsa filosofis, SEBANGSA DAN SETANAH AIR.