HARIAN NEGERI, Jakarta - Jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina meningkat menjadi 37 orang. Sementara itu, empat orang lainnya masih dinyatakan hilang dan ratusan warga mengalami luka-luka.
Tim penyelamat hingga Selasa (9/6) masih melakukan operasi pencarian dan evakuasi di sejumlah wilayah yang terdampak paling parah di Pulau Mindanao.
Gempa terjadi pada Senin pukul 07.37 waktu setempat di lepas pantai Provinsi Sarangani. Guncangan kuat menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah Mindanao, merobohkan bangunan, mengganggu layanan listrik dan air bersih, serta memicu tanah longsor di sejumlah lokasi.
Wakil Juru Bicara Kantor Pertahanan Sipil Filipina (OCD), Diego Mariano, menyebutkan sebanyak 33 korban jiwa tercatat di wilayah Soccsksargen. Rinciannya, 18 orang meninggal di Provinsi Sarangani, 12 orang di Kota General Santos, dan tiga orang di South Cotabato. Empat korban jiwa lainnya berasal dari Provinsi Davao.
Juru Bicara OCD, Junie Castillo, mengatakan sebagian besar korban meninggal dunia akibat tertimpa puing bangunan dan struktur yang runtuh saat gempa berlangsung.
Selain korban meninggal, sedikitnya 479 orang dilaporkan mengalami luka-luka, terdiri atas 456 orang di Region 12 dan 23 orang di Provinsi Davao.
Berdasarkan data pemerintah, sekitar 88.000 warga terdampak oleh bencana tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 22.690 orang terpaksa mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan atau dinilai tidak aman untuk ditempati. Banyak warga masih bertahan di ruang terbuka akibat gempa susulan yang terus terjadi dan kekhawatiran terhadap kondisi bangunan.
Operasi pencarian dan penyelamatan saat ini difokuskan di Kota General Santos dan Provinsi Sarangani yang menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah.
Pemerintah Filipina juga melaporkan kerusakan pada sembilan jembatan dan 19 ruas jalan. Nilai kerugian infrastruktur diperkirakan melebihi 900 juta peso Filipina atau sekitar Rp264 miliar.
Di sektor permukiman, sebanyak 1.889 rumah mengalami kerusakan, termasuk sekitar 1.500 rumah yang hancur total. Kerugian properti sementara diperkirakan mencapai 15 juta peso Filipina atau sekitar Rp4,4 miliar. Otoritas setempat menegaskan angka tersebut masih dapat bertambah seiring berlangsungnya proses pendataan.
Untuk menampung warga yang belum dapat kembali ke rumah, OCD tengah menyiapkan pembangunan kawasan tenda darurat di sejumlah lokasi pengungsian.
Sementara itu, Departemen Pendidikan Filipina melaporkan kerusakan signifikan pada fasilitas pendidikan. Hasil penilaian awal menunjukkan sebanyak 1.159 ruang kelas di 231 sekolah negeri yang tersebar di lima wilayah mengalami kerusakan akibat gempa.
Sesaat setelah gempa utama terjadi, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik Amerika Serikat sempat mengeluarkan peringatan potensi tsunami dengan gelombang lebih dari tiga meter di atas ketinggian pasang normal. Namun, peringatan tersebut kemudian dicabut oleh Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina setelah hasil pemantauan menunjukkan tinggi gelombang yang terjadi tidak berpotensi menimbulkan kerusakan.
Sebelumnya, pemerintah Filipina dan Indonesia sempat mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir rawan untuk segera menuju daerah yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi.
Sekitar dua jam setelah gempa utama, wilayah tersebut kembali diguncang gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,1. Pada Selasa, gempa susulan magnitudo 5,1 kembali tercatat berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Rangkaian gempa susulan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan bertambahnya kerusakan serta menghambat proses pencarian dan penyelamatan yang hingga kini masih berlangsung.


Komentar